Rabu, 30 Maret 2011

Depresi Kecoa Bag 2


Rabu, 23 Maret 2011

            Waktu itu aku lagi di JHS(Junior High School), teman-teman gue pada ribut semua seperti sedang perbaikan jalan atau sedang ada proyek pembuatan gedung. Pada saat gurunya masuk ke dalam kelas. Yang asalnya kelas bagaikan pasar malam langsung berevolusi menjadi makam tak berpenghuni, karena kedatangan seorang guru kami atau bisa juga di sebut Wakil Kepsek kami. Wakil Kepsek kami tersebut adalah guru B.Inggris. Lalu setelah guru tersebut mengucapkan salam, ada temen gue yang agak ceroboh. Dia tidak tahu ada kehadiran guru di kelas. Sampai-sampai makan, minum and sambil dengerin musik di HP(Handphone). Padahal di sekolah dilarang membawa HP, temen gue malahan santai-santai aja. Dan pada saat itu juga guru gue tersebut ngenyamperin temen gue dengan berkata “Hei kamu, apa yang kamu makan and dengarkan.” Lalu kata temen gue “(Dengan wajah agak lugu)Makanan dan mendengarkan musik lewat HP Pak!” Dengan sangat marah serta aneh guru tersebut mengucapkan “Apakah kamu ingat peraturan tentang di sekolah ini? Makan di kelas pada waktu jam pelajaran dan membawa HP tidak di perbolehkan!” Temen gue ini masih tidak sadar kalau yang sedang berbicara dengan Dia tersebut adalah guru. Setelah temen gue melihat ke arah orang yang berbicara dengannya. Dia langsung terkejut setengah mati(Seperti lumpuh aja). Dengan suara yang terbata-bata temen gue minta maaf pada guru tersebut and HPnya sementara disita.

            Pada waktu malam itu gue baru pulang dari rumah sakit. Gue panggil syarif untuk nemenin gue di rumah, soalnya kan gue orangnya penakut. Daripada gue minta zahid untuk temenin gue tidur, malahan dia yang gue temenin. Pada waktu gue menunggu di depan rumah Syarif, gue melihat dua orang cowok yang lagi kebingungan mencari alamat. Setelah itu salah satu dari orang tersebut datang menghampiri gue ingin menanyakan sesuatu. Setelah orang itu sebutkan alamatnya, gue bingung. Nih suara laki-laki atau perempuan ya? Terpikirkan dalam benak gue(Apakah kedua orang ini adalah banci). Setelah Syarif keluar dari rumahnya, Syarif langsung menghampiri temennya si laki-laki tadi itu. Kemudian laki-laki tersebut bertanya pada Syarif “Kelas berapa Dik!” Syarif menjawab “Kelas 7 SMP kak!” Dan setelah Syarif menyebutkan kalau Dia kelas 7 SMP. Laki-laki tersebut mencium pipinya Syarif. Ternyata dalam pikiran gue kalau kedua orang laki-laki ini adalah banci ternyata benar. Gue menahan rasa tawa gue waktu itu. Setelah gue tunjukan alamatnya, salah seorang mengucapkan “Makasih Mas ya!” Dengan rasa menjadi Mas-mas gue menjawab “Ya, sama-sama!” Gue merasa heran, karena kenapa gue dipanggil Mas. Bukannya Adik. Umur gue kan baru 14 tahun. Apakah karena kumis tebal gue ini kali ya?

Load disqus comments

1 komentar: